Korandiva-BLORA.- Suasana pagi Minggu (11/1/2026) di Masjid Nurul Falah, Kelurahan Karangjati, Kecamatan Blora, terasa berbeda. Usai Salat Subuh berjamaah, jamaah tidak langsung beranjak pulang. Mereka menyimak dengan khidmat pesan sederhana namun sarat makna yang disampaikan Ketua RW V Karangjati, Agus Budi Sukrisno.
Dalam kultum singkatnya, Agus mengajak jamaah menatap tahun 2026 dengan lebih sadar dan bijak. Bukan hanya meningkatkan ketakwaan, tetapi juga menjaga kesehatan, menata pola kerja, peka terhadap lingkungan sosial, serta peduli pada kelestarian alam. Semua itu, menurutnya, dapat dimulai dari satu kebiasaan sederhana: menanam.
Pesan dari mimbar Subuh itu rupanya tidak berhenti sebagai wacana. Tak lama setelah kultum usai, beberapa jamaah bergerak menuju Taman Perumnas Karangjati. Di sana, Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA., salah satu tokoh masyarakat setempat, memimpin penanaman pohon buah manggis. Sebuah aksi kecil, namun penuh simbol kepedulian dan harapan.
Bambang Sulistya bercerita, taman Perumnas selama ini memang disiapkan sebagai ruang hijau yang produktif. Berbagai tanaman buah nusantara telah tumbuh di sana, mulai dari mangga gadung, mangga manis Purbalingga, jeruk keprok Tanggul, kelengkeng, belimbing wuluh, belimbing Demak, nangka madu, hingga nangka merah asal Lampung. Ada pula sawo jawa, sawo belanda, juwet putih, aneka jenis jambu, sukun madu, kelapa genjah hijau, dan alpukat.
Baginya, menanam pohon buah bukan semata urusan fisik atau keindahan taman. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata dukungan terhadap program Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, S.IP., M.Si., yang mendorong Blora sebagai pusat pengembangan tanaman buah-buahan nusantara.

“Menanam adalah tanggung jawab moral, spiritual, sosial, sekaligus ekologis. Dari tanah inilah kita menyiapkan masa depan yang lebih sehat, damai, dan harmonis,” ungkap Bambang.
Ia menambahkan, proses menanam dan merawat pohon juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan: keikhlasan, kesabaran, serta keteguhan hati. Nilai-nilai yang kian relevan di tengah ritme hidup yang serba cepat.
Agus Budi Sukrisno, yang akrab disapa Kiai Gaul dan dikenal sebagai mantan guru SMA Negeri 1 Blora, memaknai menanam sebagai simbol harapan dan investasi jangka panjang. Menurutnya, menjaga bumi bukan hanya tanggung jawab hari ini, tetapi juga amanah untuk generasi yang akan datang.
“Menanam tanaman adalah amal jariyah. Ia terus memberi manfaat, bahkan ketika penanamnya sudah tiada. Di situlah nilai syukur, sedekah, dan kepedulian berpadu,” tuturnya.
Ia pun mengajak masyarakat menjadikan bumi sebagai ladang amal, tempat menanam kebaikan yang kelak berbuah bagi kehidupan.
Optimisme serupa disampaikan Sitiarta, bendahara Masjid Nurul Falah. Ia membayangkan Taman Perumnas Karangjati ke depan akan menjadi ruang publik yang hidup. Bukan sekadar tempat bermain dan melepas penat, tetapi juga ruang hijau yang menghadirkan udara segar, buah-buahan, serta kicauan burung yang menenangkan.
Dari mimbar Subuh hingga tanah taman perumahan, Karangjati pagi itu menunjukkan satu pesan sederhana: menanam hari ini adalah merawat masa depan. (*)



