Korandiva-BLORA.- Awal tahun 2026 menjadi momentum penuh makna bagi keluarga besar Paguyuban Jati Kuncoro. Di sebuah rumah yang sarat sejarah pengabdian, para purna tugas Dinas Kehutanan Kabupaten Blora berkumpul, berbagi cerita, dan meneguhkan kembali nilai-nilai kehidupan dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-12 paguyuban tersebut, Selasa (6/1/2026).
Bertempat di kediaman Ir. H. Sutikno Slamet, mantan Sekretaris Daerah Blora, di Jalan Dewadaru Kaplingan Kridosono, suasana pertemuan terasa hangat dan akrab. Bukan sekadar perayaan ulang tahun, pertemuan ini menjadi ruang refleksi bersama tentang bagaimana menjalani kehidupan di tahun yang baru.
Spirit kebersamaan itu dirajut melalui akronim TPP, sebuah rumusan tiga sikap penting dalam menjalani kehidupan tahun 2026. Bukan Tunjangan Peningkatan Pendapatan seperti yang kerap dikenal, TPP yang dimaksud justru memiliki makna filosofis: Tutup masa lalu, Pandai bersyukur, dan Pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Nilai tersebut disampaikan oleh Penasehat Paguyuban Jati Kuncoro, Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA, yang mengajak seluruh anggota untuk menyongsong tahun 2026 dengan hati lapang dan pikiran optimistis.
Menurutnya, kehidupan ke depan akan lebih baik jika dijalani dengan rasa syukur dan kebijaksanaan.
Ia mengaitkan spirit TPP dengan keyakinan bahwa tahun 2026 menurut astrologi Tiongkok merupakan Tahun Kuda Api (Fire Horse), yang sarat dengan tantangan, perubahan, dan peluang.

Kondisi itu, kata Bambang, justru menuntut manusia untuk bersikap arif dalam mengambil langkah.
Makna TPP pun dijabarkan satu per satu. Tutup masa lalu, yakni menutup rapat pengalaman, kebiasaan, dan perilaku kurang baik yang hanya akan membebani langkah ke depan.
Mengutip Imam Al Ghazali, Bambang mengingatkan bahwa masa lalu adalah sesuatu yang paling jauh karena tak mungkin diraih kembali. Oleh sebab itu, waktu saat ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Pandai bersyukur dimaknai sebagai kemampuan menerima apa yang dimiliki tanpa merasa kurang. Tuhan Yang Maha Pemurah, ujarnya, memberi apa yang dibutuhkan manusia, bukan semata apa yang diinginkan. Fokuslah pada apa yang telah ada, lalu sempurnakan, bukan sibuk mengejar kesempurnaan semu.
Sedangkan Pasrah, adalah sikap menyerahkan hasil akhir kepada Allah SWT setelah berusaha dan berikhtiar. Manusia tetap dituntut untuk terus berbuat baik dan memberi manfaat, baik bagi diri sendiri, sesama, maupun lingkungan.
Ketua Paguyuban Jati Kuncoro, Mashudi, SP., M.MA, menegaskan bahwa peringatan HUT ini tidak hanya bertujuan merayakan usia paguyuban, tetapi juga mempererat silaturahmi serta menumbuhkan semangat kekeluargaan dan kerukunan.
“Pertemuan ini menjadi sarana menjaga kebersamaan keluarga besar Jati Kuncoro,” ujarnya.

Sejumlah tokoh purna tugas turut hadir, di antaranya H. Gunadi, S.Sos., MM, mantan Asisten II Sekda Blora beserta istri; Ir. H. Soebekti, SP., MMA, mantan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Blora; Turiman, BSc, mantan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kehutanan; Ir. H. Bambang Sulistya, MMA, Ketua PWRI Kabupaten Blora; serta Dra. Indah Purwaningsih, M.Si, mantan Kepala Dinsos P3A Kabupaten Blora. Hadir pula para purna tugas kehutanan lainnya.
Acara dipandu Drs. H. Jenal Susanto, mantan pejabat Pemkab Blora, yang mampu mencairkan suasana. Gelak tawa dan keakraban mengalir seiring hiburan karaoke yang dibawakan langsung oleh para peserta.
Sebagai tuan rumah, Ir. H. Sutikno Slamet mengungkapkan rasa syukurnya karena di awal tahun 2026 dapat kembali berkumpul dalam suasana penuh makna. Baginya, pertemuan ini bukan hanya ajang silaturahmi, tetapi juga ruang untuk mengenang romantika dan dinamika pengabdian di masa lalu. Ia berharap tradisi pertemuan semacam ini terus dilestarikan.
Sutikno juga mengenang rumahnya yang pernah menjadi saksi sejarah, yakni tempat pembentukan kepengurusan HKTI Kabupaten Blora, saat organisasi tersebut diketuai Bupati Blora Ir. H. Basuki Widodo.
Nuansa reflektif semakin terasa ketika Dra. Indah Purwaningsih, M.Si menyampaikan testimoni perjuangannya kembali ke Pemerintah Kabupaten Blora setelah sebelumnya bertugas di Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah.
Kisah tentang doa, ikhtiar, dan kesabaran itu disampaikan runtut dan menyentuh hati para hadirin.
Kehangatan kian lengkap saat H. Gunadi berduet dengan sang istri membawakan lagu Jawa Setyo Tuhu. Lagu tentang kesetiaan cinta yang tulus itu mengalun merdu, menghadirkan rasa damai dan kebahagiaan di antara para peserta.
Rangkaian kegiatan pun ditutup dengan pembagian doorprize dan makan bersama menu khas lontong opor Ngloram, kuliner legendaris Kabupaten Blora, yang seakan menyempurnakan kebersamaan di awal tahun yang penuh harapan. (*)



