Korandiva-BLORA.- Tahun 2026 datang dengan simbol Kuda Api dalam astrologi Tionghoa. Sebuah pertanda tentang tantangan, perubahan, dan peluang yang silih berganti dalam perjalanan hidup manusia. Di Kabupaten Blora, makna itu disambut dengan cara yang sederhana namun sarat arti oleh Keluarga Besar Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI).
Mengawali tahun baru, para purnabakti aparatur negara itu menundukkan kepala, mensyukuri nikmat kesehatan dan umur panjang yang masih diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa. Bagi mereka, usia senja bukan alasan untuk berhenti memberi. Justru di sanalah pengabdian menemukan bentuknya yang paling tulus—berbuat baik bagi diri sendiri, sesama, dan lingkungan sekitar.
Ketua PWRI Kabupaten Blora, Ir. H. Bambang Sulisty, M.MA., menuturkan bahwa rasa syukur itu diwujudkan melalui langkah nyata. PWRI turut “nyengkuyung” imbauan Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, SIP, M.Si., dengan menggalang dana keikhlasan bagi korban bencana alam di berbagai daerah.
“Dana tersebut kami salurkan melalui Baznas Kabupaten Blora untuk membantu saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatera Barat, serta di sejumlah wilayah Sumatera Utara yang terdampak tanah longsor dan banjir bandang,” ujarnya, Minggu (4/1/2026).
Tak hanya berbagi untuk mereka yang tertimpa musibah, awal tahun 2026 juga membawa kabar hangat bagi keluarga besar PWRI. Sebanyak 1.350 eksemplar kalender tahun 2026 dibagikan secara gratis kepada seluruh anggota PWRI Blora. Sebuah hadiah sederhana, namun sarat perhatian.
“Jangan melihatnya sekadar kalender,” pesan Bambang. “Di dalamnya ada filosofi hidup.”
Filosofi itulah yang kemudian dipertegas Ketua PWRI Provinsi Jawa Tengah, Drs. H. Hendro Martoyo, mantan Bupati Jepara dua periode. Menurutnya, kalender bukan hanya penanda hari dan tanggal, melainkan peta perjalanan hidup manusia.

“Kalender mengajarkan kita merencanakan masa depan, menata tanggung jawab, dan menjalani hidup dengan lebih welas asih. Ia memberi manfaat tanpa meminta balasan, mengingatkan bahwa perubahan adalah keniscayaan, dan ketenangan lahir dari keikhlasan,” tuturnya.
Bagi Sekretaris PWRI Blora, H. Soedadyo, SH., kalender memiliki makna tersendiri. Di antara berbagai bentuk pemberian, kalender adalah yang paling lama menemani penerimanya—setiap hari, selama satu tahun penuh.
Hal itu pula yang dirasakan para anggota PWRI. Mereka menyambut kalender tersebut dengan suka cita. Angka-angka besar yang mudah dibaca menjadi sahabat mata di usia senja. Lebih dari itu, kalender tersebut memuat Visi Bupati Blora,
“Sesarengan Mbangun Blora Maju dan Berkelanjutan”, serta sesanti PWRI, “Setiap detik berbuat baik dan setiap melangkah untuk beribadah.”
Di Dukuh Boto, Desa Sendangwungu, Kecamatan Banjarejo, Mustaji—mantan guru sekolah dasar—membuka lembar kalender sambil mengenang masa lalu. Ia teringat sosok Arief Rohman kecil, murid SDN 2 Sendangwungu pada awal 1980-an.
“Anaknya rajin, sopan kepada guru, dan tekun mengaji,” kenangnya singkat, namun penuh makna.
Menutup kisah di awal tahun, Mustaji menyampaikan harapan yang sederhana, namun universal.
“Selamat Tahun Baru 2026. Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan-Nya, sehat dan bahagia sepanjang masa.”
Di tahun Kuda Api ini, PWRI Blora memilih menyalakan api kepedulian—kecil, hangat, dan menerangi sekitar. (*)



