28.6 C
Blora

Dari Ladang ke Pendopo: Blora Mengapresiasi Pejuang Swasembada Pangan

Korandiva-BLORA.- Di bawah langit Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora, Rabu (24/12/2025), semangat swasembada pangan terasa begitu kuat. Ratusan pegiat pertanian, aparat, akademisi, hingga pemangku kebijakan berkumpul dalam sebuah momentum yang tak sekadar seremonial. Pemerintah Kabupaten Blora melalui Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4) menggelar Pemberian Apresiasi Pejuang Swasembada Pangan Kabupaten Blora, sebuah gebrakan inovasi sosial yang meneguhkan tekad Blora sebagai penyangga pangan Jawa Tengah.

Pendopo yang biasanya sunyi berubah menjadi ruang perjumpaan gagasan dan dedikasi. Dari pusat hingga daerah hadir menyatu: perwakilan Kementerian Pertanian RI, jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, hingga Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman, SIP, MSi, Wakil Bupati Hj. Sri Setyorini, Forkopimda, DPRD, dan OPD terkait. Tak ketinggalan kepala dinas pertanian dari berbagai kabupaten/kota, perbankan, BUMN, organisasi petani, penyuluh, petani milenial, Babinsa, hingga aparatur kecamatan.

Suasana gayeng tercipta. Agenda yang variatif, diselingi doorprize, membuat acara terasa hangat dan penuh energi. Namun di balik kemeriahan itu, tersimpan pesan kuat: penghargaan bagi mereka yang selama ini bekerja dalam senyap demi sawah, ladang, dan kandang yang terus berproduksi.

Kepala DP4 Blora, Ngaliman, SP, M.MA., menyampaikan bahwa apresiasi ini adalah bentuk pengakuan atas dedikasi para pejuang pangan. Menurutnya, swasembada bukan sekadar target angka, melainkan hasil kerja kolektif lintas sektor yang dibangun dengan komitmen dan inovasi berkelanjutan.

 

“DP4 akan terus berevolusi dan berinovasi untuk membangun pertanian Blora yang maju dan berkelanjutan,” ujarnya.

IMG 20251229 WA0016

Langkah konkret ditunjukkan melalui penandatanganan kerja sama antara DP4 Blora dengan Politeknik Pertanian dan Peternakan Mapena Tuban serta LPPNU Blora, yang difokuskan pada pengembangan pertanian dan pertanian organik.

 

Pada kesempatan yang sama, Maporina (Masyarakat Petani dan Pertanian Organik Indonesia) Kabupaten Blora resmi dilantik, menandai penguatan basis petani organik di daerah ini.

Prestasi pun menjadi cerita tersendiri. Sepanjang 2025, DP4 Blora menorehkan capaian dari tingkat nasional hingga daerah, mulai dari Juara III Petugas POPT Nasional, Juara I Stand Terbaik Pekan Agro Digital dan Inovasi Jateng 2025, hingga kemenangan pada Festival Blora Inovasi lewat Gerbang Blora, gerakan pengembangan buah Nusantara yang kini mulai tumbuh di berbagai sudut desa.

Di antara berbagai inovasi, GESEKU—Gerakan Sejuta Kotoran Ternak Bermutu dan Bermanfaat—menjadi kisah menarik. Dari kandang-kandang ternak, kotoran yang dulu dianggap limbah kini diolah menjadi pupuk organik. Melalui lomba inovasi yang melibatkan Babinsa, Koramil, penyuluh, dan pemerintah desa, jumlah kotak pupuk organik melonjak dari 2.200 unit pada 2024 menjadi 3.950 unit pada 2025. Sebuah perubahan kecil yang berdampak besar bagi kesuburan lahan dan kemandirian petani.

Sebagai puncak acara, sertifikat penghargaan diserahkan kepada para pejuang swasembada pangan: Babinsa, Koramil, penyuluh, kelompok tani, kepala desa, petani milenial, hingga petugas teknis pertanian, peternakan, dan perikanan. Penghargaan khusus diberikan kepada Dandim 0721/Blora Letkol Inf Agung Cahyono dan Kapolres Blora AKBP Wawan Andi Susanto atas peran aktif mereka mendukung swasembada beras dan jagung.

IMG 20251229 WA0017

Dalam sambutan Bupati Blora yang dibacakan Wakil Bupati Hj. Sri Setyorini, ditegaskan komitmen pemerintah daerah menjadikan Blora sebagai lumbung pangan Jawa Tengah, pusat pertanian organik, sekaligus sentra pengembangan tanaman buah Nusantara. Komitmen itu diperkuat dengan kolaborasi bersama perguruan tinggi dan lembaga riset.

Bagi Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA., senior Dinas Pertanian Blora, kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Ia melihatnya sebagai langkah strategis dan berani. “Tidak banyak daerah yang memberi apresiasi terbuka kepada para pejuang swasembada pangan. Ini bentuk pengakuan atas pengabdian dan kerja keras mereka,” ujarnya.

Di Blora, swasembada pangan bukan hanya jargon. Ia tumbuh dari ladang, kandang, dan tangan-tangan yang setia bekerja. Dan di pendopo itu, kerja keras tersebut akhirnya mendapat panggung yang layak. (*)

Berita Terbaru

spot_img

Berita Terkait