Sinergi Baznas dan Polsek Ngawen Hadirkan Harapan Baru bagi Warga Ketanggi

Korandiva-BLORA.- Kamis siang, 4 Desember 2025, suasana rumah sederhana milik Dandang di Dukuh Ketanggi, Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngawen, tampak berbeda. Di ruang tamu yang dindingnya mulai rapuh, berlangsung sebuah pertemuan kecil namun berarti: penyerahan bantuan rumah layak huni senilai Rp12 juta dari Baznas Kabupaten Blora yang bersinergi dengan Polsek Ngawen.
Tepat pukul 10.30 WIB, rombongan dari Baznas dan Polsek tiba di halaman rumah. Kepala Baznas Blora, Sutaat, bersama Kapolsek Ngawen AKP Lilik Eko Sukaryono, S.H., M.H., Kasi Trantib Kecamatan Ngawen Satriyo, staf Baznas, dan Kepala Desa Sendangrejo hadir menyaksikan penyerahan bantuan tersebut.
Nama Dandang sebelumnya muncul dari laporan sosial yang diterima jajaran Polsek Ngawen. Dalam kegiatan sambang dan patroli wilayah, aparat mendapati kondisi rumah Dandang yang dinilai tidak layak huni. Informasi itu kemudian dikomunikasikan dengan Baznas, dan masuk dalam daftar penerima bantuan rumah layak huni.
Sutaat menyampaikan bahwa bantuan Rp12 juta tersebut diharapkan menjadi titik awal perbaikan tempat tinggal keluarga Dandang. “Setidaknya bisa digunakan untuk membenahi atap, lantai, atau dinding agar rumah lebih aman dan layak,” ujarnya.
Bagi Polsek Ngawen, keterlibatan dalam program ini bukan sekadar pendampingan. Kapolsek AKP Lilik Eko Sukaryono menegaskan bahwa polisi di tingkat wilayah kini juga mendorong hadirnya program sosial yang tepat sasaran. “Kami ingin warga merasakan bahwa kehadiran polisi bukan hanya ketika ada masalah, tetapi juga ketika ada solusi,” kata Lilik.
Sinergi antarinstansi ini menjadi gambaran bagaimana kepedulian sosial dapat lahir dari kolaborasi di tingkat lokal. Bantuan rumah layak huni bukan hanya memperbaiki kondisi fisik bangunan, tetapi juga memulihkan rasa percaya diri keluarga penerima bantuan.
Di rumah kecil di Ketanggi itu, harapan baru tumbuh pelan-pelan. Bagi Dandang dan keluarganya, bantuan ini bukan sekadar angka di atas kertas, tetapi tanda bahwa mereka tidak berjalan sendirian—bahwa negara dan masyarakat masih hadir mengulurkan tangan. (*)



