Ramadhan di Kantor BUMD: Syukur, Santunan, dan Silaturahmi

Korandiva-BLORA.- Sore itu halaman kantor PT Blora Patragas Hulu (BPH) di Jalan Sudarman No. 3, Blora, tampak berbeda dari biasanya. Kursi-kursi tersusun rapi, meja hidangan mulai dipenuhi takjil, sementara para tamu berdatangan satu per satu. Suasana khidmat bercampur hangat menyelimuti kegiatan tasyakuran dan buka puasa bersama yang digelar perusahaan daerah tersebut, Rabu (11/3/2026).

Bagi Direktur PT BPH, Moh. Khamdun, acara ini memiliki makna khusus. Pria yang akrab disapa Gus Khamdun itu menyebut kegiatan tersebut sebagai ungkapan syukur atas amanah yang kini diembannya.

“Ini bentuk rasa syukur kami kepada Allah SWT, sekaligus momentum mempererat silaturahmi dengan para sahabat dan mitra yang berada di kompleks perkantoran ini,” ujarnya.

Tak sekadar buka puasa bersama, acara juga diisi dengan santunan bagi anak-anak yatim piatu dari Kelurahan Mlangsen. Kegiatan tersebut menjadi simbol kepedulian sosial perusahaan terhadap lingkungan sekitar.

Di hadapan para tamu, Gus Khamdun juga memaparkan sejumlah pembenahan yang dilakukan di lingkungan kantor. Mulai dari pembangunan tempat salat, pos satpam, hingga penataan taman agar kawasan perkantoran terlihat lebih rapi dan nyaman.

Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dindukcapil) Blora, Retno Kusumowati, atas dukungan dalam pemanfaatan ruang kantor untuk menambah fasilitas pertemuan PT BPH.

Retno yang turut hadir mengapresiasi langkah penataan tersebut. Namun ia juga mengingatkan agar rencana renovasi dilakukan dengan hati-hati, mengingat di lokasi itu masih tersimpan arsip penting milik Dindukcapil.

“Penanganannya harus sesuai prosedur dan melibatkan petugas kami agar arsip tetap terjaga,” pesannya.

Suasana semakin khidmat ketika KH Slamet Syaifudin memberikan tausiah singkat menjelang waktu berbuka. Di tengah berbagai persoalan dunia—mulai dari maraknya hoaks hingga ketegangan geopolitik—ia mengajak hadirin untuk tetap berpegang pada tiga prinsip sederhana.

“Amalkan B3: bersyukur, bersabar, dan berdoa,” tuturnya.

Menurutnya, doa tidak pernah sia-sia. Allah akan mengabulkannya, baik dengan cara langsung, diganti dengan yang lebih baik, maupun disimpan sebagai pahala di akhirat.

Apresiasi juga datang dari Bambang Sulistya, salah satu kolega di kompleks perkantoran tersebut. Ia menilai kepemimpinan Gus Khamdun membawa suasana baru yang lebih terbuka dan hangat.

“Meski masih muda, beliau punya kecerdasan spiritual dan kepekaan sosial yang kuat. Cara beliau merangkul lingkungan sekitar patut diapresiasi,” katanya.

Menjelang azan Magrib, suasana kembali hening. Para tamu bersiap membatalkan puasa bersama. Acara kemudian dilanjutkan dengan salat Magrib berjamaah dan ramah tamah.

Di tengah kesibukan dunia kerja, kegiatan sederhana itu menghadirkan pesan yang kuat: Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang mempererat persaudaraan dan berbagi kebahagiaan.

MPKN Laporkan Dugaan “Permainan Kayu” di KPH Blora, Perhutani Bantah Ada Pembalakan Teroganisir

Korandiva – BLORA.- Laporan dugaan tindak pidana di bidang kehutanan mengguncang pengelolaan hutan di Blora. Ketua Masyarakat Pengawas Keuangan Negara (MPKN) Kabupaten Blora, Mohammad Fuad Mushofa, pada 8 Maret 2026 melayangkan pengaduan resmi ke Polres Blora terkait dugaan praktik kotor dalam aktivitas tebangan di wilayah Perhutani KPH Blora.

Fuad menilai kegiatan penebangan di sejumlah petak hutan tidak sekadar pelanggaran kecil, melainkan berpotensi mengarah pada penggelapan, pencurian kayu, hingga dugaan pembiaran oleh oknum pejabat setempat.

Menanggapi laporan tersebut, Wakil Administratur (Waka Adm) Perhutani KPH Blora, Teguh Anggoro, S.Hut., membantah keras tudingan adanya praktik ilegal yang terorganisir di bawah institusinya. Ia menegaskan seluruh aktivitas penebangan di lapangan telah mengikuti prosedur operasional.

“Kalau disebut pembalakan liar atau pencurian masif itu terlalu hiperbolis. Setiap penebangan sudah melalui rencana tebang, pengesahan, dan dilengkapi dokumen angkutan resmi,” kata Teguh saat mem berikan klarifikasi kepada awak media di kantornya, Rabu (11/3).

Meski demikian, Teguh tidak menutup kemungkinan adanya penyimpangan di tingkat bawah yang dilakukan oleh oknum. Ia menilai tindakan tersebut bersifat individual dan tidak mewakili kebijakan manajemen KPH Blora.

Ia mencontohkan temuan terbaru di wilayah Ngawen berupa sekitar tujuh batang kayu yang diduga bermasalah. Kasus itu, kata dia, telah diserahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian sebagai bukti bahwa pengawasan tetap berjalan.

“Tidak menutup kemungkinan ada ulah oknum, baik dari masyarakat, tenaga kerja, sopir angkutan, maupun dari internal Perhutani sendiri. Namun temuan kemarin sudah diproses,” jelasnya.

Namun penjelasan tersebut justru menuai kritik dari pelapor. Mohammad Fuad Mushofa menilai klarifikasi pihak KPH Blora terkesan hanya mencari kambing hitam di level bawah.

“Tidak tepat jika disebut hanya ulah oknum. Kasus ini terjadi di banyak lokasi tebangan dan melibatkan banyak kendaraan angkut. Sulit dipercaya kalau manajemen tidak mengetahui,” tegas Fuad.

Menurutnya, persoalan yang ia laporkan bukan sekadar tindakan individu, melainkan diduga memiliki pola sistemik yang melibatkan banyak titik tebangan dan armada angkut.

Ia memastikan akan membeberkan alur praktik yang diduga terjadi beserta bukti-bukti yang dimilikinya saat memberikan keterangan kepada penyidik. “Semuanya akan saya jelaskan secara gamblang agar persoalan ini terbuka terang,” ujarnya. (*)

Diduga lakukan Pembiaran Pembalakan Liar, Pimpinan Perhutani Blora Terancam 10 Tahun Penjara

Korandiva-BLORA.– Kasus dugaan pembalakan liar di area tebangan KPH Blora memasuki babak baru setelah Lembaga Masyarakat Pengawas Keuangan Negara (MPKN) resmi melapor ke Polres Blora pada Minggu (8/3/2026). Laporan ini mencuat karena praktik ilegal tersebut diduga dilakukan secara terorganisir dan melibatkan jaringan internal.

Ketua MPKN, Mohammad Fuad Mushofa, mengungkapkan bahwa aksi ini bukan sekadar pencurian biasa, melainkan kejahatan sistematis yang berlangsung lama. “Kami melaporkannya ke Polres Blora karena peristiwanya terorganisir dan melibatkan banyak pihak, mulai dari kru tebangan hingga karyawan Perum Perhutani KPH Blora,” jelas Fuad kepada wartawan.

Salah satu poin krusial dalam laporan tersebut adalah dugaan keterlibatan pimpinan Perhutani Blora yang dianggap melakukan pembiaran terhadap kerusakan hutan negara ini. Fuad meyakini bahwa jajaran manajemen sebenarnya mengetahui praktik tersebut, namun memilih untuk tidak mengambil tindakan tegas.

“Pimpinan Perhutani Blora menurut saya mengetahui hal ini, namun mereka sengaja tidak melakukan tindakan, malah seolah diam saja dan pura-pura tidak tahu,” tegas Fuad.

Modus operandi yang digunakan diduga mencakup manipulasi data, di mana target perolehan hasil tebangan sengaja diturunkan (down grade). “Indikasinya, Perhutani Blora menurunkan target tebangan di bawah potensi yang sebenarnya ada untuk menutupi selisih kayu yang keluar secara ilegal,” tambahnya.

MPKN juga membeberkan bahwa kayu-kayu hasil tebangan tersebut tidak dibawa ke Tempat Penimbunan Kayu (TPK) resmi, melainkan dilarikan ke tempat yang tidak semestinya. Fuad menduga ada “main mata” antara pejabat dan pekerja lapangan untuk menutupi upah pekerja yang masih di bawah UMR menggunakan kayu negara.
Atas dugaan pembiaran ini, pelapor mencantumkan Pasal 105 UU P3H yang telah diubah dalam UU Cipta Kerja, yang memberikan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara bagi pejabat yang abai. Mengingat seriusnya kasus ini, MPKN mendesak kepolisian untuk segera melakukan langkah konkret sebelum bukti-bukti di lapangan menghilang.

“Kami mendesak penyidik segera mengambil langkah nyata, melakukan pemeriksaan, dan menyita barang bukti sebelum dilenyapkan atau pelaku melarikan diri karena penanganan yang lambat,” ungkap Fuad penuh harap. (*)

Meneguhkan Cinta Al-Qur’an di Malam Nuzulul Quran Masjid Nurul Falah

Korandiva-BLORA.- Suasana teras Masjid Nurul Falah Perumnas, Kelurahan Karangjati, Kecamatan Blora, pada Jumat (6/3/2026) malam terasa berbeda dari biasanya. Di tengah kesejukan malam Ramadan, ratusan jamaah berkumpul mengikuti peringatan Nuzulul Quran yang digelar Panitia Amalan Ramadan 1447 Hijriah.

Kegiatan yang berada di bawah koordinasi Gunawan, S.Pd., M.Pd. itu diawali dengan salat Isya berjamaah, dilanjutkan tarawih bersama warga Perumnas dan masyarakat sekitar. Setelah itu, jamaah mengikuti pengajian yang disampaikan oleh KH Minardi dari Desa Kemiri, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora.

Ketua Takmir Masjid Nurul Falah, H. Slamet Pamuji, SH., M.Hum., mengatakan peringatan Nuzulul Quran merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk kembali meneguhkan hubungan spiritual dengan Al-Qur’an.

Menurutnya, peringatan yang diperingati setiap 17 Ramadan tersebut menjadi pengingat peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW, yakni Surah Al-Alaq ayat 1-5, di Gua Hira.

“Peristiwa itu menjadi titik awal turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat manusia. Karena itu, peringatan Nuzulul Quran hendaknya menjadi penguat keimanan sekaligus pengingat agar kita semakin rajin membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur’an,” ujar Slamet Pamuji.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan kecintaan jamaah Masjid Nurul Falah terhadap Al-Qur’an. Tidak hanya membacanya, tetapi juga mendalami maknanya serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Slamet juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia Amalan Ramadan serta jamaah yang telah berpartisipasi sehingga kegiatan peringatan Nuzulul Quran dapat terselenggara dengan baik.

Sementara itu, salah satu imam Masjid Nurul Falah, Agus Budi S, menjelaskan bahwa malam Nuzulul Quran merupakan malam turunnya wahyu Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW. Pada saat itulah malaikat Jibril menampakkan wujud aslinya kepada Rasulullah SAW.
Ia menambahkan bahwa Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus, melainkan secara bertahap selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Dalam kesempatan tersebut, Agus Budi juga berharap tausiah yang disampaikan KH Minardi dapat memberikan pencerahan sekaligus motivasi bagi para jamaah tentang keutamaan bulan suci Ramadan, khususnya malam Nuzulul Quran.

Pengajian yang disampaikan KH Minardi berlangsung hangat dan penuh keakraban. Dengan gaya penyampaian yang khas, ia tidak hanya memberikan pemahaman spiritual, tetapi juga menghadirkan suasana yang meneduhkan melalui selingan lagu-lagu populer yang akrab di telinga jamaah.

Dalam tausiah pembukaannya, KH Minardi mendoakan para jamaah agar diberi kesehatan, kesabaran, serta kekuatan untuk menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan amanah dan istiqamah.

Ia juga mengajak jamaah menjadikan peringatan Nuzulul Quran sebagai momentum untuk meningkatkan literasi Al-Qur’an sekaligus mengintegrasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, seperti kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga keharmonisan masyarakat dengan mengendalikan diri dari perbuatan ghibah serta tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Semoga di malam yang penuh berkah ini kita termasuk orang-orang yang mencintai Al-Qur’an dan mendapatkan keberkahannya, baik di dunia maupun di akhirat,” tuturnya. (*)

Mahasiswa KKN IAI Al-Muhammad Cepu Hadirkan Semarak Nuzulul Qur’an di Festival Ramadhan Biting

Korandiva-BLORA.— Mahasiswa KKN Institut Agama Islam Al-Muhammad Cepu sedang menggelar_ Semarak Nuzulul Qur’an 1447 H di serambi Masjid Jamik Baitussalam, Desa Biting, Kec. Sambong, Kab Blora,
pada Sabtu, (7 Maret 2026) kemarin.

Ketua panitia Habib Khaironi dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada takmir Masjid Jamik Baitussalam, para guru SD, dan warga Biting yang membuka ruang bagi mahasiswa KKN untuk belajar melayani. Ia menuturkan bahwa lomba anak-anak ini bukan ajang cari juara semata, melainkan “ikhtiar kecil agar masjid jadi ruang tumbuh—tempat anak-anak berani tampil, membuat salah, lalu belajar memperbaikinya sambil menautkan hati pada Al-Qur’an.” Habib juga mengajak orang tua meneruskan semangat lomba di rumah: lima ayat sehari lebih berarti daripada satu lomba setahun.

Ketua Takmir Masjid Jamik Baitussalam Biting Kiai Nurhadi menyambut singkat dengan penekanan pada kegembiraan membaca Al-Qur’an: “Kami senang serambi masjid penuh suara anak-anak. Jadikan Al-Qur’an bacaan yang menyenangkan, bukan beban—kalau mereka pulang dengan senyum karena hafal satu ayat baru, itu cukup bagi kami.”

Acara utama diisi ceramah KH Saerozi—pengasuh Pondok Pesantren Al-Ma’ruf Ngraho, Bojonegoro. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan bahwa Nuzulul Qur’an adalah “malam muhasabah, bukan sekadar peringatan seremonial”: “Kalau Al-Qur’an turun untuk dibaca, dimengerti, dan diamalkan, maka cinta kita harus mewujud dalam perilaku—jujur di kelas, lembut ke orang tua, tekun mengulang hafalan walau sedikit.”

Semarak diisi lomba keagamaan anak: Adzan–Iqamah, Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) surah Ad-Duha s.d. An-Nas, LCC Islami, Mewarnai Kaligrafi, dan Dai Cilik. Ratusan siswa SD setempat ikut—bukan sekadar kompetisi, tapi upaya menanamkan cinta Al-Qur’an dan nilai spiritual sejak dini.

Seusai penyerahan hadiah, Sekretaris Takmir Masjid Jamik Baitussalam Biting Taufiq Rohman, S.Pd, M.MPd menekankan bahwa lomba ini adalah “tempat bermain sekaligus belajar” bagi anak-anak Biting. Ia mengapresiasi semangat peserta dan mengingatkan bahwa penghargaan terbaik adalah konsistensi membaca Qur’an di rumah. Taufiq Rohman menyerahkan piala dan piagam kepada para juara mewarnai Kaligrafi Arab. (fiq)

MPKN Laporkan Dugaan Mafia Kayu di KPH Blora ke Polisi, Indikasi Keterlibatan Oknum Pejabat Mencuat

Korandiva-BLORA.– Masyarakat Pengawas Keuangan Negara (MPKN) Kabupaten Blora resmi melayangkan laporan pengaduan terkait dugaan tindak pidana di bidang kehutanan ke Polres Blora, Minggu (8/3/2026). Laporan ini menyasar aktivitas tebangan di wilayah Perum Perhutani KPH Blora yang dinilai sarat dengan praktik kotor, penggelapan, pencurian kayu dan pembiaran oleh oknum pejabat setempat.

Aktivitas ilegal ini diduga telah berlangsung sejak awal tebangan, sekira bulan Januari 2026 di wilayah BKPH Kalonan, BKPH Ngawenombo dan lainnya. Modusnya, sebagian hasil tebangan kayu tidak disetorkan ke Tempat Penimbunan Kayu (TPK) resmi seperti TPK Banjarwaru, melainkan dialihkan dan dibongkar di pemukiman warga.

Ketua MPKN Blora, Mohammad Fuad Mushofa, mengungkapkan bahwa praktik ini dilakukan secara terstruktur. Ia menuding adanya “main mata” antara tenaga tebang di lapangan dengan oknum pegawai Perhutani. “Kami melihat ada pemufakatan jahat yang masif. Kayu-kayu hasil tebangan sengaja digelapkan keluar jalur resmi menggunakan berbagai armada tebangan,” ujar Fuad saat memberikan keterangan.

Dalam laporannya, MPKN juga menduga adanya manipulasi target produksi yang sengaja dibuat rendah di bawah potensi riil hutan. Hal ini disinyalir sebagai celah agar kelebihan kayu di lapangan bisa digunakan untuk menutupi minimnya upah tenaga kerja yang berada di bawah UMR Kabupaten Blora.

 

Fuad menambahkan, kondisi ini diperparah dengan lemahnya pengawasan dari pihak Administratur (ADM) KPH Blora. Menurutnya, satu orang mandor tebang dipaksa mengisi, mencatat, mengawasi 4 hingga 5 truk per hari, sebuah rasio yang tidak rasional dan membuka ruang bagi praktik kotor tersebut.

“Pejabat Perhutani seolah tutup mata. Ada indikasi kuat bahwa kayu-kayu ini dimanfaatkan untuk menutupi kekurangan upah tenaga kerja yang sangat minim. Jika praktik membawa kayu ini dilarang, mereka khawatir tenaga kerja akan mogok seperti kasus di KPH Cepu beberapa waktu lalu,” tegas Fuad Mushofa.

MPKN mendesak Kasat Reskrim Polres Blora untuk segera bertindak tegas mengingat potensi kerugian yang sangat besar. Mereka juga melampirkan bukti pendukung berupa rekaman foto, video armada pengangkut kayu di luar jalur resmi, serta titik-titik lokasi penimbunan kayu di rumah warga sebagai bahan awal penyelidikan.

MPKN berharap Polres Blora tidak hanya melakukan penyelidikan biasa, tetapi juga melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di lokasi-lokasi yang telah dipetakan. “Ini adalah kejahatan yang terorganisir. Kami ingin hukum ditegakkan agar kekayaan alam Blora tidak terus dirampok oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab,” pungkas Fuad. (*)

Ledek Kethek di Pagi Ramadan: Ketegaran Mbah Jamin dan Mbah Karmi Menjemput Rezeki

Korandiva-BLORA.- Mentari Minggu pagi, 8 Maret 2026, yang bertepatan dengan hari ke-18 Ramadan 1447 H, baru saja menghangatkan jalanan di kawasan Jl. Bhayangkara, Nglawiyan, Blora. Di depan Cafe KUMA, suasana tiba-tiba berubah riuh. Gelak tawa anak-anak pecah ketika seekor monyet kecil beraksi menirukan tingkah manusia.

Dengan iringan musik khas yang mengundang nostalgia, monyet itu bergantian memperagakan berbagai adegan: memikul keranjang layaknya pedagang yang hendak ke pasar, hingga berakrobat mengendarai motor mini. Atraksi sederhana itu dengan cepat menyedot perhatian warga yang melintas.

Di balik hiburan jalanan yang dikenal warga Blora sebagai Ledek Kethek—sebutan lokal untuk pertunjukan Topeng Monyet atau Tandhak Bedhes—terdapat kisah keteguhan hidup sepasang lansia. Mereka adalah Mbah Jamin (83) dan istrinya, Mbah Karmi (79), pasangan asal Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora.

Bagi Mbah Jamin, pekerjaan ini bukanlah hal baru. Setelah pensiun sebagai petani hutan lebih dari satu dekade lalu, ia memilih tetap bekerja dengan menggelar pertunjukan monyet keliling. Keputusan itu diambil meskipun keenam anaknya telah hidup mandiri di perantauan, sebagian di Jakarta dan Lampung.

“Kulo mboten saged meneng mawon. Sing penting isih saged nyambut damel,” tuturnya pelan.
Pola hidup mereka pun terbilang unik. Selama satu pekan pasangan ini mengamen di pusat kota Blora, kemudian kembali ke kampung halaman untuk beristirahat selama sepekan berikutnya.

Saat berada di kota, emperan Stasiun Blora menjadi tempat mereka berteduh sekaligus beristirahat. Dalam keterbatasan itu, keduanya tetap menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan penuh kesabaran.

“Sahur lan buka sekedare, kadang wonten sing maringi. Gusti Allah boten sare,” ujar Mbah Jamin dengan senyum tulus.

Penghasilan dari pertunjukan tersebut tidak seberapa. Rata-rata hanya sekitar Rp50 ribu per hari. Namun bagi pasangan lansia itu, rezeki sekecil apa pun tetap disyukuri.

Minggu pagi itu menjadi hari yang berbeda. Seusai pertunjukan, beberapa warga memberikan bantuan berupa paket sembako dan sejumlah uang sebagai bekal menjelang Idul Fitri.

Wajah Mbah Jamin dan Mbah Karmi tampak sumringah menerima bantuan tersebut. Bagi Mbah Jamin, pekerjaan yang ia jalani bukan semata soal mencari makan, tetapi juga bagian dari falsafah hidup yang diyakininya.

Ia menyebut ajaran “Urip Iku Urup”, filosofi yang sering dikaitkan dengan ajaran Sunan Kalijaga. Menurutnya, hidup seharusnya memberi manfaat bagi orang lain, sebagaimana api yang menyala untuk menerangi kegelapan dan menghangatkan sekitar.

Tokoh masyarakat setempat, Ir. H. Bambang Sulistya, menilai kisah pasangan lansia itu merupakan potret ketegaran di tengah tekanan ekonomi.

“Mereka mengajarkan kita tentang nrimo ing pandum, menerima apa yang menjadi pemberian Tuhan, tetapi tetap disertai usaha dan optimisme,” ujarnya.

Menurut Bambang, di balik kelucuan atraksi monyet yang mereka tampilkan, tersimpan niat sederhana: menghibur orang lain dan menghadirkan kegembiraan di tengah kehidupan yang tidak selalu mudah.

Ketika musik pengiring akhirnya berhenti dan kerumunan perlahan bubar, sosok Mbah Jamin dan Mbah Karmi tetap berdiri di sana—dengan keranjang kecil di tangan dan senyum yang tak pernah hilang.
Di tengah penghasilan yang tidak menentu, mereka seakan mengingatkan banyak orang bahwa rasa syukur sering kali menjadi kekayaan yang paling berharga. (*)

Hangatnya Kebersamaan Ramadan di Masjid At-Taqwa Randublatung

Korandiva-BLORA.- Sore itu, suasana di Masjid At-Taqwa Randublatung terasa lebih hidup dari biasanya. Menjelang waktu berbuka puasa, Rabu (4/3/2026), halaman dan serambi masjid yang menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat tersebut mulai dipenuhi jamaah.

Sebagian duduk bersila di lantai masjid, sebagian lainnya tampak berbincang santai sambil menunggu azan Magrib berkumandang. Senyum dan sapaan akrab mengalir di antara para jamaah, tokoh masyarakat, hingga para musafir yang kebetulan singgah. Ramadan benar-benar menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi.

Kegiatan buka puasa bersama itu diselenggarakan oleh Takmir Masjid At-Taqwa Randublatung yang bersinergi dengan lembaga sosial Yatim Mandiri (YM) Bojonegoro. Kebersamaan sore itu terasa semakin istimewa karena dihadiri seorang ulama tamu dari Yordania, Syekh El Tayyib Saleh.

Sejumlah tokoh daerah juga turut hadir memeriahkan kegiatan tersebut, di antaranya anggota DPRD Kabupaten Blora, Camat Randublatung, Danramil, perwakilan Polsek Randublatung, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta para jamaah dari berbagai kalangan.
Ketika waktu berbuka semakin dekat, jamaah mulai memadati ruang utama masjid. Di hadapan mereka, Syekh El Tayyib Saleh menyampaikan tausiyah singkat sebelum azan Magrib berkumandang.

Dengan bahasa Arab yang fasih, ulama asal Yordania itu menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar mudah dipahami oleh para jamaah.

Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan bahwa menjadi seorang Muslim merupakan sebuah anugerah besar. Umat Islam, katanya, diberikan kesempatan untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Menjadi seorang Muslim adalah keberuntungan, karena umat Islam diberi kesempatan untuk makrifat dan mengenal Allah SWT,” tuturnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kejujuran adalah fondasi utama dalam membangun kehidupan yang baik, baik di dunia maupun di akhirat.

“Manusia di dunia hendaknya tidak berdusta, karena kejujuran adalah modal utama menuju kehidupan di akhirat,” pesannya menutup tausiyah.

Tak lama kemudian, azan Magrib pun berkumandang. Para jamaah membatalkan puasa bersama dengan hidangan sederhana yang telah disiapkan. Meski sederhana, suasana kebersamaan yang tercipta terasa begitu hangat.
Bagi masyarakat Randublatung, kegiatan seperti ini bukan sekadar tradisi berbuka puasa bersama. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, menumbuhkan kepedulian sosial, serta meneguhkan semangat keimanan di tengah kehidupan bermasyarakat.

Melalui kegiatan Ramadan seperti ini, Masjid At-Taqwa Randublatung diharapkan terus menjadi pusat syiar Islam sekaligus wadah pemersatu umat, tempat nilai-nilai persaudaraan, kebersamaan, dan kepedulian sosial tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. (*)

Menjaga Keseimbangan Hidup dari Mimbar Subuh Masjid Nurul Falah

Korandiva-BLORA.- Fajar baru saja merekah di langit Blora ketika satu per satu jemaah meninggalkan saf salat Subuh di Masjid Nurul Falah, Kelurahan Krangjati, Kecamatan Blora, Jumat (6/3/2026). Udara pagi terasa sejuk, suasana masjid pun masih dipenuhi ketenangan khas Ramadan yang memasuki hari ke-16 tahun 1447 Hijriah.

Di tengah kekhusyukan itu, jemaah tidak langsung beranjak pulang. Mereka tetap duduk bersila, menyimak Kuliah Tujuh Menit (Kultum) yang disampaikan tokoh masyarakat setempat, Ir. H. Bambang Sulistya, M.M.A. Dari mimbar sederhana, Bambang mengajak jemaah merenungkan satu hal penting dalam kehidupan: keseimbangan.

Dalam tausiyahnya yang bertajuk “Keseimbangan Hidup (Life Balance)”, ia mengingatkan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk menata kehidupan secara proporsional—tidak hanya mengejar dunia, tetapi juga tidak melupakan tujuan akhirat.

“Allah SWT telah berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 77, bahwa kita hendaknya mencari kebahagiaan negeri akhirat tanpa melupakan kenikmatan duniawi,” ujarnya kepada para jemaah. Baginya, kehidupan dunia adalah ladang tempat manusia menanam amal kebaikan sebagai bekal menuju kehidupan yang kekal.

Menurut Bambang, keseimbangan hidup atau tawazun setidaknya mencakup tiga aspek utama. Pertama adalah kebutuhan pribadi yang berkaitan dengan kondisi fisik dan kesehatan. Kedua, kebutuhan sosial berupa hubungan yang harmonis dengan sesama manusia. Ketiga, kebutuhan spiritual yang menghadirkan ketenangan batin.
Ketika salah satu aspek itu terabaikan, kehidupan seseorang dapat menjadi tidak stabil. Rasa cemas mudah muncul, keluhan semakin sering terdengar, stres meningkat, bahkan produktivitas pun menurun.

“Karena itu, hidup perlu dikelola dengan bijak,” katanya.
Di hadapan jemaah yang masih duduk khusyuk, ia kemudian membagikan beberapa kiat sederhana agar kehidupan tetap harmonis di tengah dinamika zaman. Mulai dari meluruskan niat agar setiap aktivitas bernilai ibadah, pandai menentukan skala prioritas dalam mengatur waktu, hingga memperbanyak zikir dan doa agar hati tetap terhubung dengan Sang Pencipta. Selain itu, ia menekankan pentingnya istiqamah—konsisten dalam menjalankan amal saleh, meskipun dalam hal-hal yang sederhana.

Menariknya, Bambang juga memperkenalkan akronim “SIP” sebagai gambaran buah dari kehidupan yang seimbang.
“SIP itu artinya Siap, Investasi, dan Pengendali,” ujarnya.
Siap berarti memiliki ketenangan batin dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan. Investasi dimaknai sebagai keberkahan yang hadir dalam bentuk rezeki, kesehatan, maupun hubungan yang harmonis. Sementara Pengendali adalah kemampuan seseorang mengontrol diri dalam meraih kesuksesan dunia sekaligus keselamatan akhirat.

Menjelang akhir kultum, suasana yang semula hening berubah sedikit hangat ketika Bambang menutup tausiyahnya dengan sebuah pantun.
Jalan-jalan ke Embung Nglawiyan,
Udara segar panorama indah menawan. Mantapkan keseimbangan hidup di bulan Ramadan, Niscaya diperoleh hidup penuh keberkahan.

Beberapa jemaah tersenyum mendengarnya. Pagi itu, pesan tentang keseimbangan hidup terasa sederhana, namun mengendap dalam hati. Di bulan Ramadan, di antara ibadah yang kian intens, nasihat itu seolah mengingatkan kembali bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kehidupan yang selaras—antara dunia dan akhirat. (*)

Seminar Bahas Dampak Globalisasi dan Pergaulan Bebas di MTs NU Diponegoro Kedungtuban

Korandiva-BLORA.— Seminar bertema dampak buruk globalisasi dan pergaulan bebas digelar di MTs NU Diponegoro Kedungtuban pada Selasa (3/3/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 11.30 WIB ini diikuti para siswa dengan tujuan memberikan pemahaman mengenai pengaruh globalisasi terhadap kehidupan remaja serta pentingnya menjaga pergaulan yang sehat.

Seminar tersebut menghadirkan narasumber dari Polsek Kedungtuban, yakni Junaidi dan Paidi. Selain itu, hadir pula pemateri lain, Joko Widodo, S.H.I., M.H., yang turut memberikan pemaparan terkait fenomena sosial yang dihadapi generasi muda di era globalisasi.

Dalam penyampaiannya, para narasumber menjelaskan pengertian globalisasi beserta berbagai dampak yang ditimbulkannya dalam kehidupan masyarakat. Mereka menilai, derasnya arus informasi dan budaya dari luar dapat memengaruhi pola pikir serta perilaku remaja jika tidak disikapi dengan bijak.

Menurut para pemateri, salah satu dampak yang perlu diwaspadai adalah munculnya pergaulan bebas di kalangan pelajar. Kondisi tersebut dinilai dapat membawa konsekuensi negatif bagi perkembangan moral, pendidikan, maupun masa depan generasi muda.

Melalui kegiatan ini, pihak sekolah berharap para siswa dapat memahami berbagai risiko dari pergaulan yang tidak sehat serta memiliki kesadaran untuk menjaga diri dalam lingkungan sosialnya. Seminar ini juga diharapkan mampu menjadi bekal pengetahuan bagi para pelajar dalam menghadapi tantangan globalisasi, sekaligus membentuk karakter yang lebih baik, disiplin, dan bertanggung jawab. (*)

Koran Lokal Terpercaya